Thursday, January 29, 2009

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.


Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.


Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh

perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak

Cinta. "Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku

telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat

membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam.

Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."

Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya

pergi.


Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya

Kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan!

Tolong aku!" teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu

gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak

mendengar teriakan Cinta.


Air makin tinggi membasahi

Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik.

Tak lama lewatlah Kecantikan.

"Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!" teriak

Cinta. "Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak

bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori

perahuku yang indah ini," sahut Kecantikan.


Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis

terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. "Oh,

Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata

Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin

sendirian saja," jawab Kesedihan sambil terus

mengayuh perahunya.


Cinta putus asa. Ia merasakan

air makin naik dan akan menenggelamkannya.

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar

suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta

menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua

dengan perahunya.


Cepat-cepat Cinta naik ke perahu

itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta

dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta

sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa

orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera

menanyakannya kepada seorang penduduk tua di

pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.


"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu," kata orang

itu. "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak

mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku

pun enggan menolongku," tanya Cinta heran.


"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu

berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu."

0 komentar:

Post a Comment