Thursday, January 29, 2009

Cinta dan Pernikahan

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, “apa itu cinta?” Sebelum menjawab, gurunya meminta Plato memetik sebulir gandum dulu di ladang gandum. Tapi hanya boleh memetik sekali dan berjalan ke depan, tidak boleh menoleh.

Plato lalu mengikuti petunjuk gurunya, namun akhirnya ia keluar dari ladang gandum tanpa hasil. Sang guru bertanya kenapa tidak berhasil memetik bulir gandum itu, Plato pun berkata: “sebab hanya boleh memetik sekali, tidak boleh menoleh. Meski mendapati bulir yang besar dan kuning keemasan, namun karena berpikir mungkin ada yang lebih baik lagi di depan, karena itu tidak memetiknya. Ketika berjalan ke depan, saya melihat selalu tidak lebih bagus dari sebelumnya….ternyata bulir gandum yang paling besar dan kuning keemasan di ladang itu, telah di sia-siakannya, sehingga akibatnya sebulir gandum apa pun tidak terpetik.”

Sang guru berkata : “inilah cinta.”

Suatu hari sesudah itu, Plato bertanya pada gurunya, “apa itu pernikahan?” lalu sang guru menyuruhnya pergi dulu ke hutan, menebang sebuah pohon paling tinggi dan besar serta lebat di antara semua pohon. Dan sama seperti di atas hanya boleh menebang sekali, juga hanya boleh berjalan ke depan dan tidak boleh menoleh.

”Plato lalu melakukan sesuai dengan petunjuk gurunya. Kali ini, ia membawa pulang sebatang pohon biasa, tidak lebat tapi lumayan bagus.

Guru bertanya padanya, kenapa membawa pohon yang biasa-biasa saja? Plato berkata: “dengan adanya pengalaman tempo hari, dimana ketika setengah perjalanan di hutan masih tidak ada hasil, saya melihat pohon ini dan lumayan bagus kemudian saya tebang, agar jangan sampai terlewatkan.”

” Sang guru lalu berkata: “inilah pernikahan.”

*Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya didalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan ya ng berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

0 komentar:

Post a Comment